Monday, February 8, 2016

Anda dalam Masalah? Make It Simple

0

Setiap manusia tentunya pernah memiliki masalah baik itu menyangkut kehidupan pribadi, sosial maupun pekerjaan. Ingatlah kita dengan sebuah pepatah yang mengatakan bahwa hidup itu ujian. Tuhan tidak mungkin menciptakan manusia tanpa masalah, karena masalah adalah ujian. Dan ujian itu bertujuan untuk menyeleksi manusia ke dalam golongannya masing-masing. 
Masalah bersifat relatif, sebagai contoh, suatu hari ada orang yang hanya berpenghasilan 10ribu rupiah pada hari itu. Dia pusing bukan main karena dia berpikir itu adalah masalah yang besar tentang bagaimana ia bisa makan hari itu, bagaimana ia bisa menghidupi keluarganya dengan uang segitu. Namun ada pula yang berpikir itu bukan masalah besar selagi dia memiliki cara untuk mengembangkan uang yang sedikit itu. Misalnya dengan membelikannya suatu barang kemudian dia menjual dengan mengambil keuntungan. Sehingga uang yang 10ribu itu bisa berkembang menjadi 20ribu, 30ribu bahkan hingga 100ribu.

Proses Pemecahan Masalah



Secara tidak langsung orang kedua tersebut adalah orang yang mengetahui cara pemecahan masalah. Pola pikir adalah salah satu yang membedakan satu orang dengan orang yang lain mengenai cara menyelesaikan suatu masalah. Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan makhlukNya. Hal tersebut tentunya hanya bisa disadari oleh orang-orang yang mempunyai pola pikir positif. Artinya, pemecahan masalah itu datang kepada orang-orang yang berpikiran positif. 
Dalam alur pemecahan masalah di atas, ide-ide solusi merupakan hasil pemikiran dari orang-orang positif. Tentang berapa lama masalah tersebut dapat terpecahkan, maka yang paling memiliki peran adalah simplicity. Tidak peduli seberapa besar masalah anda, buatlah sesederhana mungkin (make it simple). Manusia itu cenderung menyukai sesuatu yang sederhana, tidak mau ribet. Selama tidak mengubah substansi ide pemecahan masalah, maka buatlah permasalahan itu sesederhana mungkin sehingga kita tidak akan malas ataupun merasa terbebani dalam menyelesaikannya. 
Lalu, bagaimana cara untuk menyederhanakan masalah? 
Sebagai contoh,
Selesaikanlah soal matematika berikut 59049 : 81 = ..........
Akan lebih sulit andai anda menggunakan cara yang biasanya dilakukan orang umum.
Anda harus menyederhanakannya terlebih dahulu membaginya menjadi sub-sub kecil misalnya sama-sama dibagi 3 atau sama-sama dibagi 9 pada pembilang dan penyebutnya.
Tidak sulit untuk menemukan solusi atau pemecahan masalah asalkan kita bersikap positif dan menyederhanakan setiap masalah yang ada.


Thursday, December 10, 2015

Kemandirian, pilihan dan pengambilan keputusan

0

Bagi sebagian mahasiswa, semester 7 merupakan saat yang paling bahagia sekaligus mendebarkan. Kenapa? Bagi mahasiswa yang telah memasuki semester 7 akan bahagia karena semester depan akan lulus, mendebarkan karena semester depan itu pula mereka harus membuat skripsi/tugas akhir yang tidak lain membutuhkan kerja keras untuk menjamin kelulusan mereka. 
Bagi sebagian mahasiswa yang lain, terutama yang kuliah sambil bekerja ataupun ada kegiatan lain di luar kampus maka bisa jadi semseter 7 atau 8 bukanlah semester terakhir mereka, yang artinya mereka harus menunda kebahagiaan untuk lulus. Kuliah bisa molor karena kesulitan membagi fokus antara pekerjaan dengan kuliah. Itulah jenjang kuliah, banyak pengalaman yang akan kita dapatkan saat duduk di bangku kuliah.
Jika ingin melatih kemandirian dalam belajar, maka jenjang kuliah adalah guru yang paling berharga. Tidak akan sama lagi dengan masa SMA, segala sesuatu tentang materi pelajaran masih diberikan dengan jelas dan detail oleh guru. Pada saat kuliah, tugas-tugas yang diberikan banyak yang tidak disampaikan dengan detail oleh dosen. Kebanyakan dosen hanya memberi garis besar apa saja yang harus dipelajari, untuk selebihnya kemandirian belajar dan ketekunan lah yang menuntun kita untuk lulus.
Dosen saya pernah mengatakan, kuliah itu tempat dimana anda menjalani kebebasan maksimal. Dengan kata lain, dalam perkuliahan kita bebas dalam memilih apa yang akan kita kerjakan dan kita dituntut untuk menggunakan pilihan dengan bijak. Apalagi jika tempat kuliah kita jauh dari kota tempat tinggal kita. Tentu akan lebih banyak lagi kebebasan yang kita dapatkan. 


Kebebasan untuk memilih menjadi maksimal. Misalnya, pada saat kita ke kampus akan mengikuti suatu mata kuliah, di saat yang sama teman kita mengajak untuk jalan. Manakah yang akan kita pilih? 
Menurut saya, keduanya mempunyai bobot yang sama selama kita bijak dalam menggunakan pilihan itu. Kuliah itu penting tapi jalan-jalan juga penting. Untuk mengambil sebuah keputusan, maka diperlukan analisis terhadap setiap pilihan. Analisis yang paling mudah adalah dengan bertanya pada diri sendiri. Tapi bukan berarti harus ngomong sendiri lho ya.. nanti dikira gila..
Misalnya dalam kasus tersebut, jika saya memilih ikut kuliah, apakah saya bisa mendapatkan ilmu yang saya inginkan? Bagaimana dengan dosennya? apakah banyak ilmu yang kita dapatkan dari beliau? Bagaimana suasana kelasnya? Apakah kondusif, tenang dan mendukung kita untuk belajar?
Jika saya tidak ikut kuliah, apakah saya otomatis tidak diluluskan?  
Jika saya jalan-jalan, apakah untuk saat ini pikiran memang sedang benar-benar jenuh? Apa yang bisa saya dapatkan kalau saya ikut jalan-jalan? Bagaimana kondisi keuangan kita? dan lain sebagainya.
Setalah itu baru kita kalkulasi, mana yang lebih banyak positifnya. Lebih banyak sisi positif merupakan pilihan yang bijak. Akan tetapi mungkin banyak dari kita yang bertanya apabila kita memilih pilihan yang lebih banyak sisi negatifnya apakah salah? 
Tidak ada salah ataupun benar dalam sebuah pilihan. Boleh saja kita memilih untuk melakukan hal yang lebih banyak sisi negatifnya, akan tetapi perlu diingat bahwa setiap pilihan mengandung konsekuensi dan resiko. 
Kesimpulannya adalah kemandirian akan mendorong kita menghadapi lebih banyak pilihan, untuk memilih dengan bijak perlu melakukan analisis pengambilan keputusan. Memilih dengan bijak berarti menyandarkan pilihan kita kepada hal-hal yang positif. Hal-hal yang positif akan selalu membimbing kita dalam kebaikan. Meskipun kebaikan itu belum tentu benar, akan tetapi setidaknya dengan banyak hal positif, maka lingkungan kita jadi positif, pikiran kita jadi positif, teman-teman kita jadi positif dan akan lebih banyak sisi positif yang bisa kita dapatkan.


Tuesday, December 8, 2015

Memberi arti pada kehidupan

0

Pernahkah anda mendengar atau membaca bahwa setiap benda yang kita lihat saat ini tidaklah mempunyai arti kecuali kita yang memberikan arti pada benda tersebut? Misalnya saja saya sekarang sedang memegang laptop, menurut saya laptop adalah salah satu mesin yang cukup penting yang bisa mempermudah pekerjaan saya baik itu menulis, mengerjakan tugas kampus, memperoleh informasi dan lain sebagainya. Akan tetapi coba kita bayangkan apabila kita kembali ke masa lampau saat jaman nenek moyang kita masih hidup, atau kita hidup di pedalaman yang jauh dari dunia modern, pastinya kita menganggap keberadaan laptop ini sebagai sesuatu yang tidak penting, atau tidak memiliki arti dalam kehidupan. Bahkan mungkin kita menganggap laptop sebagai barang asing yang harus dijauhi karena dikhawatirkan akan menimbulkan bahaya.
  
Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini pasti memiliki arti dan fungsi masing-masing. Manusia diberikan keistimewaan yang sangat besar apabila dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lain. Manusia memiliki akal dan hati. Karunia tersebut membuat kita sebagai manusia dapat dengan mudah memberikan arti kepada setiap benda yang ada di seluruh jagat raya ini. Bahkan dengan seijin Tuhan, kita dapat menciptakan berbagai karya di berbagai bidang hanya dengan memaksimalkan otak kita untuk berpikir dan melakukan tindakan.
Sebagaimana seorang  Thomas Alfa Edison yang menciptakan lampu pijarnya yang berfungsi memberikan penerangan saat gelap, Tuhan pun menciptakan manusia bukan tanpa arti dan fungsi. Kehidupan yang diberikan Tuhan ini merupakan sebuah tanggungjawab bagi kita untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang sebagaimana dicontohkan oleh Rasul-Nya dan tertuang dalam Kitab-Nya. Bukankah manusia diciptakan adalah sebagai pemimpin (khalifah) ? Lalu pemimpin bagi siapa? dan untuk tujuan apa? Setiap orang memiliki pengetahuan yang dapat menjawabnya, yang jelas tugas kita sebagai manusia adalah beribadah, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. 
Setiap ciptaan pasti akan menuruti semua perintah dari penciptanya ataupun pemiliknya. Misalnya televisi, saat kita menekan tombol power on, maka televisi tersebut akan menyala, saat kita menekan channel yang kita inginkan maka dengan segera televisi itu akan menuruti kemauan kita. Akan tetapi, ada juga televisi yang saat kita tekan tombol power on tidak menyala, itulah televisi rusak. Manusia juga ada yang seperti itu, berarti akal dan hati kita telah rusak ataupun tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Memberi arti kehidupan adalah dengan tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagai seorang makhluk yang telah dikaruniai oleh berbagai kelebihan dan kemudahan, bukan saatnya lagi untuk mengeluh. Saatnya sekarang untuk berubah menjadi manusia sebagaimana mestinya, menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Menjadi orang yang berguna bagi orang lain, bagi kehidupan dan alam semesta.

Monday, December 7, 2015

Untuk apa belajar rumus ini itu?

0

Sore itu seperti biasa, saya mengajar les privat di tempat salah seorang murid. Pada saat itu kami membahas pelajaran fisika dengan materi gerak melingkar. Mulailah saya menjelaskan tentang materi gerak melingkar dan dengan cukup antusias murid saya mendengarkan dan sesekali bertanya. Sampai pada saat mengerjakan latihan soal, ada sebuah pertanyaan yang menurut saya cukup menarik dan bisa jadi ini juga menjadi pertanyaan bagi diri kita. 
Murid: " Mas, untuk apa sih kita belajar rumus-rumus ini? Toh nanti di dunia kerja ataupun di kehidupan sehari-hari juga tidak dipakai."
Dengan sedikit berpikir saya mencoba menjawab dengan bijak, walaupun saya rasa argumen yang diberikan anak tersebut ada benarnya juga. Tetapi sebagai seorang guru, tentu saya harus memberikan jawaban yang memuaskan atau minimal dapat membukakan paradigma baru sehingga lebih semangat dalam belajar.
Saya: " Begini dek, memang benar untuk dipakai di kehidupan sehari-hari tidak memerlukan rumus-rumus tersebut, di dunia pekerjaan pun hanya beberapa profesi yang memakai sebagai dasar saja, misalnya engineer. Tetapi yang penting dalam belajar bukanlah menghafal rumus, tetapi memahami setiap konsep yang ada, diambil filosofi dan logika berpikirnya sehingga nantinya dapat berguna dalam kehidupan. Untuk lebih mengetahui aplikasinya ya nanti waktu kuliah misalnya adik ambil jurusan teknik fisika atau jurusan lain yang berkaitan."
Mendengar jawaban saya tersebut terlihat bahwa murid saya masih agak bingung lalu dia mengatakan ya sudah mas lanjut saja. 

aplikasi gerak melingkar
Menurut saya fakta seperti ini menunjukkan bahwa setiap murid memiliki paradigma negatif bahwa apa yang dia pelajari di sekolah sebenarnya tidak terlalu penting untuk kehidupannya kelak, yang akhirnya berdampak negatif terhadap motivasi belajarnya. Padahal sekolah seharusnya menumbuhkan motivasi dan kepercayaan diri bagi siswa untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya.
Jujur saja, saya waktu di sekolah dulu juga asal sekolah saja, belajar, mengikuti kurikulum yang ada,  mendapat nilai, lulus, lalu bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Akan tetapi, sangat sedikit pengetahuan tentang kehidupan yang saya dapatkan. Baru setelah duduk di bangku kuliah dan bekerja saya mendapatkan pengalaman dan pembelajaran di kehidupan yang sebenarnya.
Menurut saya, peran wali kelas serta bimbingan dan konseling setidaknya memang harus ditingkatkan, tidak hanya menegakkan aturan akan tetapi memberikan motivasi dan cara belajar yang benar untuk siswa. Merencanakan dan mengarahkan siswa terhadap minat dan bakat yang dimiliki agar nantinya mendapat pekerjaan yang sesuai dengan passion. 

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com